Majalah Nur Hidayah

Media Mencerdaskan Umat

Wednesday, Oct 22nd

Last update:08:12:27 PM GMT

Headlines:
You are here:

Makna Kegagalan

E-mail Print PDF

gagal

Setiap orang mungkin pernah mengatakan bahwa ia mengalami kegagalan, entah gagal memasukkan putranya di sekolah favorit, gagal dalam ujian nasional, gagal menjadi pegawai negeri, dan berbagai kata gagal lainnya. Dari kegagalan tersebut, ada yang sanggup menerimanya, tetapi ada juga yang tidak sanggup menerimanya, ada yang protes, ada yang menyalahkan orang lain, tidak bisa menerima hal yang dialaminya itu.

 

 

Gagal adalah sebuah pertanyaan yang memerlukan pemikiran mendalam. Pertanyaannya sederhana namun jawabannya tidak sesederhana itu. Pertama kita perlu mendefinisikan secara tepat, apa itu gagal. Menurut Kamus Besar Indonesia (KBBI) gagal adalah tidak tercapainya maksud/keinginan/tujuan seseorang. Kita perlu juga melihat makna gagal apakah yang banyak dipahami oleh orang saat ini adalah hanya sebuah opini atau makna sesungguhnya. Banyak orang yang sangat takut dengan kegagalan

 

Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukanlah sesuatu yang disukai, dan yang pasti kegagalan adalah suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Banyak orang mengatakan kata “gagal” pada saat menghadapi kejadian atau keadaan yang tidak menyenangkannya. Bagaimanakah sikap seorang muslim menghadapi hal seperti itu?

 

Seorang muslim semestinya menyikapi kejadian ini dengan sabar dan ikhlas, itulah tuntunan Islam. Seorang beriman yakin bahwa mendapat musibah, kegagalan, dan kekalahan terdapat kebaikan dan hikmah di balik itu semua. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat Al-Qur’an: “Maka bersabarlah kamu sebab jika kamu mendapat apa yang tidak kamu sukai, maka sesungguhnya di dalamnya terdapat sesuatu kebaikan yang banyak.” (An Nisa : 19)

 

Dalam hidup ini kita selalu dihadapkan pada dua hal, yaitu berhasil atau gagal. Dua kata ini akan selalu mengiringi kita. Pada saat tertentu kita akan mencapai keberhasilan sesuai yang kita harapkan, tetapi di saat yang lain kita sering menghadapi ketidakberhasilan. Dua kejadian yang saling bertolak belakang dan sangat wajar dialami oleh seseorang. Bagaimana kita harus bersikap?

 

Keberhasilan

Keberhasilan akan memberikan pembelajaran, bagaimana kita harus bersyukur kepada Allah swt. atas nikmat keberhasilan. Namun, sayangnya sebagian besar manusia  tidak dapat memahami arti keberhasilan tersebut. Ketika keberhasilan itu datang, banyak di antara kita  merasa bangga diri dan sombong. Banyak yang  merasa bahwa keberhasilan itu merupakan hasil kerja kerasnya  sendiri. Sebagian besar dari kita lupa bahwa dibalik keberhasilan tersebut ada Allah yang mengaturnya.“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat)kepadamu , tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.S. Ibrahim :7). Oleh karena itu jika pada saat mengalami keberhasilan seorang hamba bersyukur, maka Allah akan memberikan keberhasilan-keberhasilan yang lain. Dengan demikian seorang muslim harus memahami bahwa keberhasilannya hanya akan tercapai jika diizinkan Allah. Seorang muslim juga harus sadar bahwa dirinya sangat lemah “tidak ada apa-apanya”. Karena itulah harus memberi maka keberhasilannya dengan penuh rasa syukur kepada Allah. Sayangnya hanya sedikit hamba Allah yang dapat bersyukur.

 

Kegagalan:

Kegagalan sebenarnya mengajarkan kepada seseorang apa  arti kesabaran. Namun tidak banyak orang yang mampu bersabar menghadapi kegagalan. Ketika kegagalan datang seseorang sering menyalahkan Allah. Dia merasa Allah tidak sayang dan tidak peduli kepadanya.

 

Jika dia pahami telah seperti itu, tentu saja dapat menimpa kita sebagai seorang muslim. Kita Sudah seharusnya menyakini bahwa semua  kejadian itu sudah menjadi kehendak Allah, dan itulah yang terbaik bagi kita. Asalkan kita mampu bersabar. Gagal di dunia tidak berarti Allah tidak sayang padanya…. “Dan kami pasti akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik  dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl : 96)

 

Pada dasarnya, seseorang akan merasakan keberhasilan setelah mengalami kegagalan. Karena keberhasilan itu muncul karena ada kegagalan, bisa dikatakan barometer keberhasilan itu adalah kegagalan. Banyak orang yang berhasil setelah mengalami berulang kali kegagalan. Thomas Alva Edison berhasil menemukan bola lampu listrik setelah mengalami 1000 kali percobaan yang gagal. Tidaklah aneh, seseorang akan merasakan lebih nikmat keberhasilan apabila sebelumnya dia banyak mengalami kegagalan. Itulah proses kehidupan. Tidak selamanya kita hidup dalam keberhasilan. Namun tidak selamanya pula kita hidup dalam kegagalan. Yang terpenting adalah, bagaimana kita memaknai arti dari keberhasilan dan kegagalan tersebut. Dan seorang yang beriman menghadapi kejadian yang tidak mengenakan ini dengan senyum.

 

Kiat Menghadapi Kegagalan

Pada dasarnya seseorang yang yang hidupnya sudah diwarnai syariat Islam tidak akan merasakan kegagalan. Karena orientasi hidupnya adalah akhirat. Apapun yang dia alami selama hidup di dunia tidak sebanding kenikmatan hidup di jannah Allah yang kekal abadi. Dan bagi seorang muslim gagal itu adalah ketika seseorang yang hidupnya di akhirat kelak ditempatkan di neraka jahanam.

 

Namun, ketika masih hidup di dunia sesuatu yang dia inginkan tidak berhasil dia wujudkan. Itulah ujian dari Allah. Pada saat-saat seperti itu dia perlu mengambil sikap berikut.

1. Tersenyum

Dalam keadaan apapun, termasuk ketika dihinggapi kegagalan, seorang yang beriman menghadapinya dengan tersenyum, sabar, dan ikhlas. Karena menangis, meratap, apalagi melampiaskan kekesalan dengan cara merusak tidak akan menciptakan keberhasilan melainkan justru hanya akan melipatgandakan kesedihan yang sudah terjadi. Usahakan tetap tegar di hadapan orang lain. Cukuplah menangis di hadapan Allah ketika bertahajud. Orang yang beriman beranggapan kegagalan itu bukan akhir dari segala-galanya, dan kegagalan itu hanyalah keberhasilan yang tertunda. Mereka tidak berputus asa dari rahmat Allah, dan berusaha serta berdoa untuk menjadikan kegagalan itu menjadi satu keberhasilan.

 


Allah Azza wa Jalla berfirman: yang artinya:

 

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".(Al-Fushilat:30)


2. Berusaha menghadapi kegagalan

Berbahagialah  bagi mereka selama hidupnya seringkali  dihadapkan dengan halangan atau kesulitan. Karena, janji Allah  tidak akan memberikan kesulitan di luar batas kemampuan manusia itu sendiri. Kesulitan dan pahitnya hidup sepatutnya menjadi sarana menuju martabat yang lebih tinggi. Hanya dengan "mendaki" lebih tinggi dan lebih tinggi lagilah, manusia akan mampu memahami hakikat kehidupan yang luas ini.


Allah Azza wa Jalla berfirman lagi:

 

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a):

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS; Al-Baqarah:286)

 

Firman Allah swt dalam surat Al Insyirah ayat 5 dan 6

5. Karena sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada (ada banyak) kemudahan,

6. Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada (ada banyak)  kemudahan.

Dua ayat ini memberikan penjelasan khusus mengenai sebuah kesulitan, yakni 'bersama satu  kesulitan ada (banyak)  kemudahan'. Kesulitan bisa terjadi karena kita mengalami kegagalan dalam melakukan sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa hanya ada satu kesulitan. Ini berarti bahwa pada setiap kesulitan ada lebih dari satu  kemudahan atau solusi.

 

3. Melakukan evaluasi (muhasabah)

 

Seorang muslim ketika menghadapi sebuah kegagalan, kemudian merenung. Dia akan menganalisis, melakukan evaluasi atau muhasabah penyebab timbulnya kesulitan atau kegagalan itu. Dia akan berusaha mencari solusi. Meningkatkan belajarnya, memperbanyak wawasannya, dan melakukan uji coba. Dengan kondisi seperti itu paling tidak dia akan menjadi lebih pintar daripada sebelum menghadapi kesulitan dan kegagalan itu. Dan tidak jarang dia akan menemukan hal-hal baru yang bermanfaat dimana sebelumnya dia dia belum menemukannya. Dan kemudian dia akan melakukan satu langkah yang membuatnya berhasil.

 

4. Berserah diri kepada Allah

Seorang yang beriman yang menghadapi kesulitan atau kegagalan apa saja  sedangkan  dia merasa tidak mampu mencari solusi, lalu dia hanya bisa pasrah, berserah diri kepada Allah; pada hakikatnya dia sudah menemukan jalan keluarnya. Allahlah yang akan memberi petunjuk

 

Sebetulnya tidak ada kata gagal  bagi seoang muslim. Sesuatu yang dialami oleh seorang muslim yang tidak menyenangkan hatinya bukanlah sesuatu kegagalan melainkan memang kehendak Allah untuk memberikan yang terbaik bagi kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang sabar dan selalu bersyukur kepada Allah swt. atas segala nikmat dan karunianya. (As).


blog comments powered by Disqus

Share this post