Majalah Nur Hidayah

Media Mencerdaskan Umat

Saturday, Aug 23rd

Last update:08:12:27 PM GMT

Headlines:
You are here:

PRINSIP TOLERANSI ISLAM TERHADAP NON MUSLIM

E-mail Print PDF

Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, bagi orang beriman maupun yang tidak beriman. Syariat yang termaktub dalam al-Qur'an lengkap tidak terkecuali syariat tentang bagaimana umat muslim menjalin hubungan dengan nonmuslim atau orang-orang kafir. Tentang orang kafir sendiri Allah swt. menurunkan surah khusus yang diberi nama al-Kafirun artinya orang-orang kafir. Sebagian besar kita hafal surah yang terdiri atas enam ayat itu.


Membaca surah al-Kafirun memberi gambaran kepada kita tentang adanya satu garis pemisah yang tegas antara orang yang beriman dan yang kafir. “Lakum diinukum waliyadiin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku,” bunyi ayat terakhir. Dalam tafsirnya Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa dalam berhubungan dengan nonmuslim ada batas-batas toleransi yang tidak boleh dilanggar. Yaitu dalam masalah aqidah, ritual ibadah, dan hukum-hukum syariat. Sementara dalam hal bermuamalah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti berjual beli atau kerjasama yang saling menguntungkan diperbolehkan.

Ada tiga golongan orang kafir yang masing-masing berbeda cara memperlakukannya. Ketiga golongan tersebut adalah kafir dzimmi, kafir harbi, dan kafir ' mua'ahhad.

1. Kafir dzimmi
Mereka adalah golongan orang kafir yang tidak
memusuhi atau menyatakan perang dengan kaum muslimin/ Islam. Menjadi kewajiban bagi kaum muslimin untuk melindungi mereka dari kedzaliman. Tetapi sebaliknya mereka (i) wajib membayar jizyah atau upeti kepada penguasa atau ulil amri, (ii) tidak boleh menjelek-jelekkan Islam sedikit pun, (iii) tidak melakukan sesuatu yang merugikan dan membahayakan kaum muslimin, (iv) terpenting mereka tunduk dengan semua aturan dan hukum Islam.

2. Kafir harbi
Mereka adalah orang kafir yang menyatakan perang dengan kaum muslimin, dengan kata lain memerangi umat Islam karena agamanya. Di antara akhlak seorang muslim kepada kafir harbi adalah (i) tidak memerangi sebelum berdakwah, (ii) tidak menipu dan menyiksa dalam perang, (iii) tidak memerangi golongan lemah di antara mereka yakni wanita, anak-anak, pendeta dan ahli ibadah, serta orang tua yang tidak mampu berperang, (iv) tidak melakukan perusakan terhadap tanaman, buah-buahan, membakar rumah tanpa diperlukan, meracuni air dan sejenisnya.

3. Kafir mua'ahhad
Mereka adalah orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin dalam hal ini perlindungan keamanan. Kewajiban kita sebagai muslim melaksanakan isi perjanjian yang disepakati selama tidak dilanggar.

Hubungan dengan golongan non muslim

Mengucapkan selamat atau ikut serta dalam hari raya nonmuslim sama artinya kita rela dan bersenang hati dengan perayaan itu. Biasanya orang memberikan ucapan selamat karena kita ikut bergembira atas apa yang diraih, seperti mendapat promosi jabatan, mendapatkan rezeki, atau mendapat karunia anak. Dan itu menunjukkan keridhaan kita pada hal tersebut. Apalagi hari raya umat agama lain, padahal sudah jelas setiap kita shalat meyakini bahwa Allah swt. Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Jika kita ridha dengan apa yang mereka yakini atau rayakan, berarti kita sudah mengamini keyakinan mereka, seperti keyakinan Tuhan memiliki anak. Na'udzubillahi mindzalik. Berhati-hatilah dalam hal ini karena dapat menggugurkan iman jika kita meyakininya, meskipun tidak secara langsung.

Sebaliknya, dalam Islam tidak ada larangan melakukan urusan muamalah dengan nonmuslim di luar urusan aqidah dan peribadatan. Seperti melakukan akad jual beli atau sewa-menyewa, perdagangan, memuliakan tetangga, menjamu tamu, bersedekah, dan sebagainya. Nabi saw. pernah membeli makanan untuk keluarga Beliau dari seorang Yahudi. Nabi saw. juga menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi. Nabi saw. pernah memakan makanan mereka, dan menghadiri undangan mereka.

Dalam urusan kemasyarakatan, Rasululllah saw. mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang kafir, seperti perjanjian Hudaibiyah dengan orang-orang musyrik, perjanjian damai dengan orang Yahudi di Madinah, dan perjanjian dengan kaum Nashara di Najran. Hal ini boleh dilakukan demi kemaslahatan bersama. Dan dalam tataran ini pemeluk agama lain yang terikat dengan perjanjian termasuk dalam golongan orang kafir mua'ahhad, dan bukan orang yang harus diperangi. Rasulullah saw. bersama kaum muslimin melaksanakan isi perjanjian bersama kaum kafir waktu itu.

Rasulullah saw. juga memerintahkan kaum muslimin agar berlaku baik kepada tetangga dan para tawanan. Sebagaimana firman Allah Swt. : “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”.(Q.S. al-Insân: 8). Rasulullah saw. memberikan teladan luar biasa dalam akhlaqul karimah. Kemuliaannya tergambar ketika seorang Yahudi yang buta disuapi langsung oleh Rasulullah saw. setiap hari, tanpa dia menyadari orang yang menyuapinya adalah Muhammad Rasulullah saw.

Diceritakan Yahudi yang buta itu memaki-maki Nabi Muhammad saw. padahal Rasulullah sedang menyuapinya. Sepeninggal Rasulullah saw. Abu Bakar r.a. hendak meneruskan kebaikan Rasulullah tersebut. Seketika Yahudi yang buta itu bertanya, “Siapa gerangan dirimu? Engkau orang yang berbeda, tidak sama dengan orang yang dulu sering menyuapiku?” Abu Bakar kemudian berkata bahwa yang dulu menyuapinya adalah Muhammad Rasulullah saw. dan kini telah tiada. Yahudi itu terperanjat dan tidak menyangka orang baik yang selalu menyuapinya itu adalah Muhammad, orang yang selama ini dibenci dan dimaki-makinya. Singkat cerita Yahudi tersebut masuk Islam karena tersentuh dengan akhlak Rasulullah saw.

Dalam konteks hubungan kekeluargaan, Allah swt. memerintahkan seorang anak untuk berbuat baik kepada orang tuanya yang kafir. Allah swt. berfirman, yang artinya: “Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku”, (Q.S. Luqman: 15). Dikisahkan Abu Hurairah, sahabat yang dikenal sebagai perawi hadits itu menangis di hadapan Rasulullah karena sang ibu belum beriman dan selalu menjelek-jelekkan beliau. Rasulullah saw. pun menasihati Abu Hurairah supaya tetap berbakti dan hormat kepada ibunya. Abu Hurairah menuruti nasihat Rasulullah dan minta agar ibunya didoakan supaya mendapat hidayah Allah swt. Dan terkabullah doa Rasulullah, Abu Hurairah mendapati ibunya sedang berwudhu dan berniat mengucapkan syahadat.

Demikian ketinggian Islam dalam mengatur hubungan iman dan kafir. Dalam satu sisi yakni aqidah, Islam dengan tegas melarang umatnya larut dengan keyakinan nonmuslim, termasuk bergembira dan memberi ucapan selamat pada hari raya mereka. Di sisi lain, yakni muamalah atau selain aqidah, Islam sangat menganjurkan berbuat adil dan tetap berakhlaqul karimah dengan mereka. Adapun amal-amal yang terikat syariat, maka sudah menjadi jalan masing-masing dan tidak dapat dipersatukan.

Firman Allah: “Dan Aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu.Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu.Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)”. (Q.S. asy-Syuraa: 15)

Bagi umat Islam, batas toleransi yang dianjurkan cukup jelas sebagaimana dijelaskan di atas. Seorang muslim tidak dilarang untuk berteman akrab dengan nonmuslim, tetapi tidak untuk dijadikan sebagai wali atau penolong. Pertemanan dengan nonmuslim tidak sepantasnya menjadikan mereka lebih kita cintai atau diutamakan daripada saudara yang muslim.
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah dia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka” (Q.S. Ali 'Imrân: 28)

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang, yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah”. (Q.S. al-Mujâdilah: 22).

Jadi seorang muslim harus bangga dengan keislamannya. Kepribadiannya tidak boleh bercampur aduk dengan nonmuslim. Dia harus tegas mengatakan: “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Q.S. al-Kâfirûn: 6). (If/dari berbagai sumber)


blog comments powered by Disqus

Share this post