Majalah Nur Hidayah

Media Mencerdaskan Umat

Thursday, Jul 31st

Last update:08:12:27 PM GMT

Headlines:
You are here:

Setelah Kematian

E-mail Print PDF

Kematian adalah sesuatu yang pasti akan dialami oleh setiap makhluk hidup, termasuk juga manusia. Orang dikatakan mati jika rohnya sudah keluar dari jasmaninya. Detik-detik proses dicabutnya roh seseorang bisa memberi gambaran kehidupannya setelah kematiannya tersebut. Rasulullah pun merasakan kesakitan ketika malaikat mencabut roh beliau, sehingga sang malaikat maut tidak sampai hati melihat beliau yang kesakitan. Kalau Rasulullah saw. sebagai manusia terbaik dan kekasih Allah saja merasa kesakitan saat rohnya dicabut, lalu bagaimana dengan kita yang masih akrab dengan dosa?
Seseorang yang berusia lanjut belum tentu akan mati terlebih dulu daripada seorang anak. Kematian bisa terjadi pagi hari, siang hari, sore hari, atau dini hari. Singkat kata, kematian bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Orang yang mati akan berpisah dengan segala sesuatu yang melekat pada jasmani dan ruhaninya; berpisah dengan harta, jabatan, anak-istrinya, atau hiburan-hiburan yang melenakannya Sesungguhnya kematian akan mengantarkan seorang hamba kepada kehidupan yang sesungguhnya. Dengan kematian, seseorang akan keluar dari kehidupan dunia menuju surga atau neraka.

Apa yang sebenarnya dialami oleh seseorang setelah mengalami kematian? Kematian adalah suatu misteri yang hanya Allahlah yang Mahatahu. Namun lewat utusan-Nya, kita bisa memperoleh gambaran peristiwa yang dialami seseorang setelah kematiannya. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari al-Barra’ bin Azib dikisahkan sebagai berikut. “Apabila seorang hamba mukmin berada di ujung dunia menuju gerbang akhirat (mengalami kematian), malaikat dari langit turun kepadanya. Wajahnya putih bersih, secerah mentari. Mereka membawa kafan dan balsam yang berasal dari surga. Mereka duduk sangat dekat dengan hamba itu dan mengucapkan salam. Lalu duduk di atas kepalanya dan berkata, ”Wahai jiwa yang suci, keluarlah menuju ampunan dan keridhoan Allah.” Maka ruhnya keluar sebagaimana aliran air yang deras. Lalu malaikat mengambil ruhnya dan ditaruh di dalam kain kafan. Daripadanya keluar wewangian yang paling harum. Setelah diletakkan di (kubur) bumi, malaikat mengangkat ruh itu ke langit. Setiap malaikat yang dilalui pasti bertanya, “Ruh siapa ini?” Malaikat pembawa ruh menjawab, “Fulan bin Fulan” dengan menyebut nama paling bagus yang pernah dipakai di dunia.

Setelah sampai di langit ke tujuh, Allah Swt berfirman, “Tulislah catatan hamba-Ku ini dalam ‘Illiyin dan kembalikan dia ke bumi…. Ruh itupun kembali ke jasadnya di bumi (alam kubur). Lalu datanglah dua malaikat ke hadapannya dan bertanya, “Siapa Rabbmu…apa agamamu…siapa nabimu…”. Semuanya dijawab benar. Lalu terdengarlah seruan dari langit, “Benarlah hambaku ini. Berikanlah dia kasur dan pakaian dari surga, serta bukakan pintu surga.

Setelah itu dilapangkanlah kuburnya sejauh mata memandang. Datang kepadanya seseorang yang rupawan dengan baju bagus dan aroma harum. Orang itu berkata, “Berbahagialah dengan kemudahan yang diberikan kepadamu. Dia bertanya kepada orang itu, “Siapa engkau? Wajahmu rupawan”. Dijawabnya, “Akulah amal shalihmu… akulah shalatmu…akulah zakatmu…akulah tilawatul qur’anmu….akulah kebaikan dan sedekahmu… Maka Allah mengganjarmu dengan kebaikan”.

Selanjutnya ketika orang kafir atau fasik berada di ujung dunia dan gerbang akhirat, datanglah malaikat berwajah hitam kepadanya. Malaikat itu duduk di sebelah sambil terus melotot. Kemudian datanglah malaikat maut yang membawa tenunan kasar dan langsung menduduki kepala orang itu. Malaikat itu berkata, “Wahai jiwa yang kotor keluarlah menuju amarah dan murka Allah.” Bergetarlah badannya. Ruhnya dicabut dari badan, sebagaimana dicabutnya bulu wol yang basah dari alat panggangnya. Dan ditaruhlah ruh itu di dalam tenunan kasar dengan dilaknat para malaikat. Dari tempat itu berhembuslah bau bangkai yang paling busuk di dunia.

Saat ruh dibawa naik ke langit, setiap malaikat yang dilalui pasti bertanya, “Ruh siapa yang buruk ini?” Malaikat pembawa ruh menjawab, “Fulan bin Fulan” dengan menyebut nama paling buruk yang pernah dipakai di dunia. Setelah sampai di langit ke tujuh, Allah Swt berfirman, “Tulislah catatan hamba-Ku ini dalam Sijjin dan kembalikan dia ke bumi yang paling bawah. Maka ruh itupun dilempar begitu saja ke jasadnya di alam kubur. Lalu datanglah dua malaikat ke hadapannya dan bertanya, “Siapa Rabbmu…apa agamamu…siapa nabimu…”. Semuanya jawabannya salah. Lalu terdengarlah seruan dari langit, “Engkau pendusta. Berikanlah dia kasur dan pakaian dari neraka, serta bukakan pintu neraka”.

Dia merasakan panasnya api neraka dan angin panas yang berhembus darinya. Kuburnyapun menyempit, sehingga meremukkan tulang-tulangnya. Lalu datanglah orang yang buruk rupa dan pakaiannya. Aromanya busuk menyengat. Orang itu berkata, “berbahagialah dengan kejelekanmu. Inilah hari yang dijanjikan. Engkau enggan taat kepada Allah, tetapi semangat dalam bermaksiat. Maka Allah mengganjarmu dengan kejelekan. Dia bertanya, “siapakah engkau, wajahmu sangat buruk?” Dijawabnya, “akulah amalmu yang buruk…akulah syirik yang pernah kamu lakukan…akulah harta haram yang kamu kumpulkan….akulah dosa dan maksiat yang kamu lakukan…”

Setelah itu hamba tadi yakin  bahwa apa yang akan dia tempuh setelah alam kubur lebih dahsyat dan kekal. Dia berkata, “Wahai Rabbku, jangan berlakukan kiamat”. Setelah itu dia menjadi buta, tuli, dan bisu. Tangannya memegang besi, yang jika dipukulkan ke sebuah gunung, hancurlah gunung itu. Dan dia dipukul dengan besi itu hingga hancur menjadi tanah. Kemudian Allah mengembalikan dia ke bentuk semula, dan kembali hancur dipukul. Dia menjerit sangat keras, semua makhluk mendengar jeritannya kecuali dari golongan jin dan manusia.

Berita dari Rasulullah saw. tentang kejadian setelah kematian tersebut hendaknya dapat dijadikan pembelajaran. Kadang timbul pertanyaan, pada saat di alam kubur yang merasakan kenikmatan atau siksaan apakah ruh ataukah jasmani? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Ibnul Qayim memberi ilustrasi seseorang yang sedang tidur dan mengalami mimpi. Seseorang yang bermimpi mendapat sesuatu yang menyenangkan, kadang di bibirnya tersungging senyuman, bahkan bisa saja dia berseru kegirangan. Bisa juga seandainya saat itu dia tidur bersama dengan temannya, yang saat itu temannya juga mengalami mimpi tetapi mimpi yang menyeramkan. Temannya mungkin menjerit-jerit ketakutan sambil mengeluarkan keringat dingin. Jadi, dalam waktu yang bersamaan di tempat yang berdekatan dua orang akan mengalami peristiwa ruhani yang saling bertolak belakang.

Ketika hidup di dunia, jasmani adalah sesuatu yang tampak sedangkan roh atau jiwa adalah sesuatu yang tersembunyi. Karena itu hukum-hukum di dunia berkenan dengan jasmani, meskipun ruhani juga dapat merasakan akibatnya. Seseorang yang badannya disakiti akan merasakan sakit, bahkan sakitnya itu bisa sampai ke hatinya hingga akhirnya menimbulkan rasa sakit hati dan dendam. Jasmani di dunia dapat merasakan sakit karena syaraf-syarafnya masih berfungsi. Tidak aneh orang yang syarafnya dimatikan, misalnya dibius lokal, dia tidak sakit ketika dicubit.

Alam kubur berbeda dengan alam dunia. Di alam kubur, ruhani adalah sesuatu yang tampak sedangkan jasmani adalah sesuatu yang tersembunyi. Karena itu, kenikmatan atau siksa alam kubur berkenaan dengan roh seseorang. Meskipun ada kejadian mayat yang belum lama di kubur, jasadnya sudah hancur seperti dipukuli dengan martil, yang dengan itu Allah menunjukkan kebenaran ayat-ayat-Nya. Kondisi roh seseorang, menyenangkan atau mengerikan itu, akan dialaminya sampai hari kiamat kelak. Dan kondisi yang dia alami di alam kubur itulah yang akan dia rasakan di akhirat kelak.

Siksa kubur bisa dialami oleh orang kafir, munafik, bahkan mukmin. Seorang mukmin akan merasakan siksa kubur dikarenakan dosa-dosa dan perbuatan maksiat yang dia lakukan selam hidup di dunia. Menurut Rasulullah saw. mukmin yang mandapat siksa kubur antara lain disebabkan oleh tidak bersuci setelah buang air, suka mengadu domba, suka berbohong, suka berhutang, dan berzina. Adapun hal-hal yang dapat menyelamatkan dari siksa kubur antara lain shalat wajib berjamaah, tilawatul Qur’an, suka bersilaturahim, dan berdoa mohon dihindarkan dari siksa kubur.

Banyak orang suka hidup di dunia dan dia takut mati. Padahal sesungguhnya kematian yang dia takuti itu tetap akan menemuinya. Bukan kematian yang menjadi pokok permasalahan, melainkan sesaat setelah kematian itulah yang seharusnya menjadi perhatian. Sebab bukannya untuk dunia seorang hamba diciptakan, melainkan untuk akhirat dia diciptakan. Jadi, jangan salah pilih (Ind).


blog comments powered by Disqus

Share this post